• 17

    Aug

    Pejuang Tak Dikenal

    Tak ada yang tahu. Engkau adalah pejuang. Ya pejuang bagi isterimu dan anak-anakmu. Tak ada yang tahu kalau engkau berjuang menghadang bala tentara Jepang. Diantara teman-temanmu ada yang tewas seperti Abbas dan Ubadah di kampung sebelah. Namun Tuhan masih memberimu jalan kehidupan. Sebab rakyat membutuhkanmu kelak kemudian di masa-masa sulitnya revolusi. Ayah, dari tuturanmu aku baru tahu engkau adalah pejuang. Menafkahi anak-anak dan isterimu. Tetapi dikala situasi memintamu terjun ke medan juang ternyata engkau pun pejuang. Saat itu itu usiamu sekitar tiga puluh dua atau mungkin lebih. Darimu aku tahu kalau AKi Tarmedi itu pejuang hebat. Berani menantang Jepang yang bergerak dengan panser dan bersenjata lengkap hanya dengan Bambu Runcing. Dia menghadap di Gamping, lereng bukit Kuyambut
    Read More
  • 17

    Aug

    Kita Belum Merdeka?

    Untuk ke-70 kalinya bangsa ini mengingati bahkan merayakan hari Kemerdekaannya. Karena berpatokan bulan Agustus tanggal 17 sebagai titik tolaknya. Berkembang pemahaman kita sudah merdeka selama 70 tahun, terhitung sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Sebelum 1945 kita anggap hidup belum merdeka. Bahkan dipercaya seolah semacam mitos yang diamini bahwa sudah dijajah 350 tahun lamanya. Benarkah? Ya, memang bangsa ini sejak berkuasa pemerintahan Belanda menggantikan VOC di tahun 1800, telah mengalami kehilangan kekebasan menentukan langkah nasibnya sendiri. Bangsa ini sudah dihegemoni dan dikuasai. Setidaknya 145 tahun bangsa ini dibawah kendali pemerintah Hindia Belanda. Sampai pemerintah Hindia Belanda tersingkir oleh kedatangan Balatentara Jepang. Inilah awal peperangan Asia Pasifik antara b
    Read More
  • 13

    Aug

    Ayah kami pejuang?

    Serasa baru kemarin obrolan kita, ayah. Senyummu masih terbayang. Ketika kutanya kau, “Kenapa ayah tak seperti yang lain, misalnya paman kami yang jadi veteran. Bukankah dia lebih muda darimu?” Kau hanya menjawab,”Saat itu ayah tidak berharap apa-apa. Berjuang ya berjuang.” Dari mulutmu mengalir kisah yang sebelumnya tak kuketahui. Satu-persatu kau sebutkan nama-nama pemuda pejuang menghadapi Jepang saat itu. Aku percaya, karena ketika itu kau sudah pemuda. Bahkan kau sudah berkeluarga. Lebih tiga puluh usiamu saat itu. “Jangan bayangkan jalan raya seperti sekarang,” katamu Seterusnya kau berkisah. Jalan raya sepanjangnya masih rimbun. Pohon-pohon mahoni besar rimbun untuk bersembunyi. Pohon bambu dan kayu-kayu besar lainnya seakan menutupi perkampun
    Read More
  • 12

    Aug

    Dikejar Deadline

    Ngeri~ngeri sedaap. Aku dikejar~kejar deadline. Bagaimana pun terasa capek, order tulisan itu datang pada waktunya. Tetapi semula mesti beres dua bulan. Akhirnya malah harus sebulan beres semua naskah itu. Dua buah naskah harus aku kerjakan dalam waktu sebulan. Dengan rata~rata 40 halaman per naskah. Ya lumayan memeras energi dan pikiran. Menulis naskah buat buku bukan pekerjaan enteng. Bukan sekedar buku, meski tampilannya gak terlalu tebal. Tapi rancangannya untuk ensiklopedi berseri. Semoga aku bisa mengatur stamina dan energi. Dan lolos sampai deadline yang diminta.
    Read More
  • 22

    Oct

    Oh Delima oh Delima ...

    Delima. Buah dengan biji merah seperti jagung. Rasanya manis kadang asam dan sepet. Ternyata memiliki khasiat untuk obat-obatan. Pantesan beberapa waktu lalu, sering saya mendengar tetangga jauh meminta buah pohon delima katanya untuk obat. Ternyata benar, biji buah delima berkhasiat untuk obat. buah delima Sayang pohon buah delima di halaman itu sudah hilang. Yang ada tinggal bekasnya. Karena dihabisi ditebang saja, waktu itu ibuku menyuruh menebangnya. Karena seringkala banyak ulat bulun...
    Read More
  • 24

    Jul

    Bersihkan Dosa Senyumkan Dhuafa

    Tak ada yang seindah bulan Ramadan. Populer sebutan bulan puasa. Keberkahan sepertinya menaungi semua yang menyambut kedatangan ramadan. Bulan Ramadan menjadi sarana pengampunan dosa, siapa yang tak mau? Pasti semua orang mau. Karena siapa orang yang tak punya dosa. Seorang muslim yang menjalani puasa Ramadan dengan berdasarkan iman dan ilmu insyaallah akan memperoleh ampunan Allah. Benarkah? AmpunanNya pasti tiba. Bagaimana tidak? setelah menjalani pengosongan diri dari perilaku negatip (dosa), seorang muslim memasuki kondisi penumpukan amal saleh setiap hari siang dan malam. Siangnya amalan puasa dan bersedekah dengan harta dan perbuatan, malamnya dipenuhi dengan tadarusan, salat malam dan berzikir pada Allah. Dengan begitu maka kekuatan amalan apa yang sedahsyat amalan di bulan Ramadan
    Read More
  • 17

    Apr

    BELAJAR HINGGA KE NEGERI CINA: Revitalisasi dan Reaktualisasi Etos Ker

    Arah peradaban (geo-ekonomi, politik, kultur) tampaknya sedang mengalami pergeseran di Abad 21 ini. Dari peradaban Anglo-saxon (barat) menggeser ke Mongolian (timur). Secara geo-ekonomi Cina kini menjadi negara paling potensial menuju puncak peradaban itu. Menurut Citibanks, Pergeseran 10 besar ekonomi dunia 2010-2050, untuk tahun 2010 urutan satu AS, kedua Cina, ketiga Jepang, keempat India. Tahun 2015 urutan satu AS, kedua Cina dan ketiga India, keempat Jepang. Tahun 2020 urutan satu adalah Cina, kedua AS, ketiga India dan keempat Jepang. Tahun 2030 urutan satu Cina, kedua As, ketiga India dan keempat Jepang. Tahun 2040 urutan satu Cina, kedua India, ketiga AS dan keempat Indonesia. (Bambang Sudibjo, Makalah Seminar Nasional di UMY (5/8). Kebangkitan Cina tampak sejak tahun 1990-an, se
    Read More
  • 21

    Mar

    Casilleux

    tuk: Liem Fo Ing aku suka mas, kau bilang itu dengan hormat aku juga suka kau, kataku meski kau perempuan Amoy kita rasakan cinta menembus suku-bangsa hanya saja aku suka sujud fi mushola sedangkan kau berdoa di gereja lalu di mana kita akan bersama dan kapan kita berdua akan menyatu bukankah begitu pertanyaanmu yogya, 1997
    Read More
  • 17

    Feb

    sebuah kata

    walnya sebuah kata Kun Jadilah Adam Seorang diri Awalnya sebuah kata Sepi Jadilah Eva Pasangan sejati Awalnya sebuah kata Dengki, Terkutuklah dia Iblis Jadilah sang penggoda Awalnya sebuah kata Kekal, Dimakanlah Khuldi Telanjanglah diri Awalnya sebuah dosa Tertanggalah pakaian sorga
    Read More
  • 17

    Dec

    AISYIYAH DAN KEBANGSAAN: Catatan Kongres Perempuan dan Perubahan Sosial

    Dalam Kongres Perempuan I, 22-25 Desember 1928, dari peserta kongres sekitar 600 orang, lebih setengahnya adalah kalangan Aisyiyah, demikian menurut catatan Susan Blackburn (2005). Berbeda dengan yang dicatat Susan Blackburn, Hoofbestuur Aisyiyah mencatat Kongres dihadiri sekitar 1000 peserta, dengan mengutip Congresnummer, Congres Perempoean Indonesia jang Pertama 22-25 Desember 1928 di Mataram, halaman 7-9. (Mataram, sebutan lain tempo dulu untuk kota Yogyakarta). Kongres ini diakhiri keputusan terbentuknya Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPI) pada 25 Desember 1928. Meskipun berbeda data sejarah ini menunjukan kontribusi penting Aisyiyah pada Kongres tersebut. Aisyiyah termasuk pelopor dalam Komite Kongres dari 10 perkumpulan yang terdiri dari : Ismudiati (WO), Sunarjati (PI), ST Su
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post